FRIEND # 7 = INVESTOR


“Bisa geseran seminggu ??, tanya saya kepada seorang sahabat beberapa waktu lalu. Biasa Jumat yak??, sahabat saya malah balik bertanya dengan nada bergurau, bentar lagi gua transfer yak!!, jawab sahabat tadi.

Jawaban yang membuat lega dan haru  sampai saat ini bagi saya. Hari Jumat adalah hari yang sering membuat jantung saya berdetak lebih kencang, hari dimana saya dan camp harus memenuhi kewajiban kami kepada mitra kami, yakni mandor dan tim, serta para supplier.

Bisnis properti merupakan bisnis padat modal dan jelas membutuhkan nafas panjang bagi siapapun yang terjun di bisnis ini. Hal tersebut sangat terasa bagi saya dan camp yang memulai bisnis ini dengan modal keyakinan bahwa kami bisa, geseran-geseran dana segar dari para sahabat tadi seperti aliran darah yang membuat jantung kami lebih nyaman.

Rekayasa finansial sangat dibutuhkan agar bisnis ini dapat berjalan dengan baik, sebuah teori dari Eyang Prop -mentor terbaik saya- , bisnis yang membuat terjadinya sebuah pikulan resiko yang sangat berat sehingga kamu harus mencari jalan agar  pikulan berat tadi akan terasa lebih ringan bila dipikul bersama, “Para Investor” begitu Eyang Prop menyebut orang yang memiliki kemampuan untuk memikul resiko secara bersama tadi.

“Itu kan teori Eyang..”, ujar saya pada tahun 2005 lalu, mencoba beragumen, sebuah teori yang sangat susah untuk dijalankan. Argumen tadi mungkin bentuk kekesalan saya karena sudah hampir 4 tahun mencari profil “Para Investor”, seperti Eyang gambarkan tadi. Berbagai konsep properti telah saya presentasikan kepada para calon investor dan berharap banyak agar mereka mau memikul resiko bersama saya dalam beberapa proyek yang saya tawarkan. Saya mengetahui bahwa mereka  memiliki kemampuan dan keinginan untuk berinvestasi di industri properti bersama saya, karena mereka adalah nasabah prima disalah satu bank terbesar tempat istri saya bekerja saat itu, namun belum ada satu orangpun yang berani memikul resiko tadi bersama saya.

“Orang yang berani memikul resiko bersama kamu adalah orang yang paling dekat dan paling tahu tentang kamu, sehingga timbul rasa percaya bahwa mereka mau mengambil resiko untuk berinvestasi kepada ide dan konsep kamu dibidang properti”, ujar Eyang Prop mencoba meredakan kekesalan saya, sehingga saya dapat  menemukan semangat kembali untuk mencari profil “Para Investor tadi.

Betul perkataan Eyang Prop tadi, orang pertama yang berani beresiko kepada saya adalah orang yang yang sangat dekat dengan saya, sudah hampir 16 tahun saya mengenalnya. Dia adalah teman, sahabat, mitra, kekasih dan tidak lain istri saya tercinta. Setelah memutuskan keluar dari dunia perbankan, istri saya mencoba menjadi mitra salah seorang pengusaha dibidang telekomunikasi. Dengan kemampuan menjual, hasrat dan dedikasinya kepada seluruh klien yang dia miliki, sedikit demi sedikit dia berhasil mengumpulkan dana yang kemudian dia berani beresiko bersama saya. Lagi-lagi Eyang Prop membuktikan perkataannya, setelah istri saya yang memberanikan diri untuk beresiko kepada saya, selanjutnya keluarga terdekat saya dan akhirnya saya sangat bersyukur karena orang-orang dilingkungan saya mulai berani mengambil resiko bersama saya.

Dengan kesungguhan hati untuk selalu menjaga kenyamanan dan kepercayaan orang-orang yang berani beresiko terhadap seluruh ide, hasrat dan komitmen, semua kesepakatan yang telah dibuat dapat kamu penuhi, Eyang Prop berpesan kepada saya dengan suara penuh kehati-hatian.

Thanks a lot to all my “investor brotherhood”, Bro Andri Wahyudi, walaupun jauh di Kalimantan tetap dekat dihati, Om Haji Herry Sosiawan, Brother Rudy P Tjoa, B. Lucky Wirawan, Bobby Arifiyanto,  Mr. Opique, Andreas Siregar, Bastian Tobing, Bang Julianto Sutjipto. Ikhwan Hidayanto, Ferdinand Ariesta , Eri Nazaruddin, Michael Kurniawan.

Brothers yang pernah dan sering saya “ganggu” ketika saya mengalami “Friday Sick” sampai saat ini.

Bro Kukuh Indrawan, Guruh Pandjiwinata, Catur Ervinanto, Johnny Hutabarat, Bpk. Wahyu, dan ‘Koko Iwan yang telah berani mengambil resiko pada proyek-proyek saya, saya tidak pernah berhenti belajar melayani “your trust”.

Papa n Mama Bekasi, dan Mama Semarang yang semakin hari semakin percaya dan selalu berdoa anaknya bisa bermanfaat bagi orang lain, Om Luthfi, Pakde Ian n Bude Inong, Om Tonny & mba Yanti dengan petuah-petuah berharganya dan “investor abadi” saya, Mada Ayu H, sampai saat ini saya masih mengagumi dan belajar banyak dari istri saya ini, mengenai bagaimana berjualan tanpa orang lain merasa membeli, sorry mom sering ngalahnya.

(12/12/10;22.15, AR)

Property Camp Group

FRIEND # 6 = LANDLORD


oleh Adam Riza pada 10 Desember 2010 jam 9:36

“Pake duitnya siapa buat bayarin tanah pak haji kalo cash??, wong kerumah Bapak aja, saya naek motor”, begitu jawaban saya sambil harap-harap cemas  saat menerima tawaran untuk membeli tanah milik seorang pengusaha ayam didaerah Sawangan-Depok yang cukup disegani pada masanya, dan sampai saat ini masih merupakan tokoh didaerah sana. Pak Haji Syafei, begitu saya memanggilnya, beliau adalah ayahanda kawan SMA saya dulu.”Yaa, elo  pikirin dah, pegimana caranya, Bapak mah yakin elo bisa, semangat banget kayanya mah elo sama tanah itu”, Bapak aja udah pusing mikirin tanah itu, dijual gak laku-laku udah 2 taon, sekarang aja disewain buat kandang ayam cuma buat nutup pajak taonannya, jawab pak haji. Akhirnya karena saya memang berminat sekali terhadap tanah itu, saya mencari jalan agar tanah tersebut dapat saya beli, jalan pertamanya yaitu mendapatkan kepercayaan dari dari Pak Haji Syafei dan keluarga, agar pembayaran dapat dilakukan secara bertahap.

“Kepercayaan yang kamu peroleh dari orang lain merupakan salah satu modal kamu untuk mandiri didunia properti”,  Eyang Prop -mentor terbaik saya- menasihati, hal ini terbukti pada saat saya mendapatkan kepercayaan untuk membeli tanah tersebut secara bertahap sehingga saya bisa menjalankan proyek properti pertama saya secara mandiri seperti yang saya selama impikan yaitu pembangunan perumahan sederhana subsidi pemerintah.

“Pemilik tanah adalah kawan vital yang harus kamu peroleh kepercayaannya, karena tanah merupakan bahan baku utama bila kamu ingin terjun ke dunia properti sebagai pengembang”, Eyang Prop menambahkan. Dengan kepercayaan pemilik tanahlah  dapat diperoleh banyak kemudahan bagi kita yang belum memiliki dana segar seperti saya waktu itu. Dana segar merupakan roh dari bisnis properti yang sangat dibutuhkan agar  napas kita menjadi panjang, apabila kita ingin menjadi seorang pengembang.Kepercayaan yang diberikan oleh pak Haji Syafei dan keluarga tidak saya sia-siakan, akhirnya saya dapat melunasi tanah tersebut, dan saya kembali bersyukur karena “dengan menjaga teguh kepercayaan yang telah diberikan oleh pemilik tanah“, saya bisa kembali mendapatkan kepercayaan dari pemilik tanah-tanah berikutnya untuk proyek-proyek properti saya selanjutnya dengan segala kemudahan yang peroleh.

Terima kasih yang sebesar-besarnya untuk keluarga besar H.M.Syafei , atas kesempatan dan kepercayaan yang diberikan saya, hal itu merupakan tahap permulaan bagi saya agar dapat mulai menjalani rel-rel yang panjang dan berliku diindustri properti, saya pun dapat banyak belajar bagaimana menjaga kepercayaan yang diberikan oleh para pemilik tanah pada proyek-proyek yang sedang saya jalani saat ini dan selanjutnya.(09/12/10;24.40, AR)

FRIEND # 5 = KONTRAKTOR


oleh Adam Riza pada 09 Desember 2010 jam 10:00

 

“Ikut gua aja dulu, bantuin gua ngawasin proyek, gua percaya kok, elo bisa,..Ajakan seorang sahabat pada pertengahan 2005 lalu, disaat saya sedang mengawali perjalanan untuk bisa mandiri didunia properti setelah saya memutuskan untuk  keluar dari pekerjaan saya sebelumnya sebagai konsultan. Diapun yang menolong saya ketika memutuskan untuk hijrah dari Jakarta Selatan yang telah lebih 20tahun saya tempati menuju daerah Jakarta Barat. Sebuah pertemanan yang selalu saya jaga dan terasa menyenangkan, saya dapat belajar banyak dari sahabat saya tadi mengenai prinsip-prinsip bisnis ataupun hal lainnya dalam hidup sampai saat ini.

Sahabat saya itu adalah seorang pengusaha kontraktor interior, yang kini tengah merambah ke berbagai bidang karena pergaulannya yang sangat luas di dunia bisnis. Sempat ada keraguan dalam diri saya, karena walaupun lulusan Teknik Sipil saya belum pernah terjun di bidang kontraktor sama sekali, dan akhirnya saya menerima ajakan sahabat  tadi, satu tahun lamanya saya membantu dia untuk mengawasi beberapa proyek kontraktor interior.

Saya bersyukur sekali dengan keputusan yang telah saya buat walaupun pada awalnya saya sangat sering bertanya baik kepada sahabat saya tadi, para tukang, mandor dan  kawan-kawan kuliah yang memang sedang terjun dibisnis kontraktor, sehingga saya dapat memahami bidang kontraktor ini, dan sampai akhirnya saya memperoleh proyek konstruksi pertama, yakni sebuah proyek konstruksi baja untuk bangunan bengkel didaerah Karang Tengah, Tangerang dengan nilai yang sangat besar bagi saya kala itu.

Saat membangun bengkel tersebut saya mendapat seorang sahabat baru yang memang sangat menyukai dunia konstruksi dan memulainya dari paling bawah, yakni bagian umum disebuah proyek hotel dan kawasan pergudangan didekat bandara Soekarno-Hatta, walaupun dia memiliki disiplin ilmu yang sangat berbeda dari bidang Teknik Sipil, namun kesungguhan dan ketekunan yang membuat dirinya menjadi semakin ahli dan kaya akan pengalaman dilapangan, sampai akhirnya saya dan sahabat saya tersebut membuat sebuah perusahaan kontraktor.


Sebuah bisnis yang mempunyai usia sangat tua yaitu sejak manusia mulai membutuhkan pembangunan bagi kesejahteraan hidupnya. Sebuah bidang jasa yang membutuhkan keahlian spesialis dan kecermatan dalam melaksanakan sebuah pembangunan properti, menurut pandangan Eyang Prop -mentor terbaik saya-, kawan-kawan yang dituntut untuk bekerja secara detail, terjadwal, dan memiliki keahlian secara teknik dengan sempurna wajib kita miliki agar proyek properti kita apapun jenisnya dapat terjaga kualitas, keamanan dan pembangunannya pun berjalan dapat secara optimal dan efektif, Eyang Prop menambahkan.

Thanks a lot to all my brothers,….

Bro Rudi Pranata Tjoa dan team @ PT. Prada Catur Indonesia, Bro Ikhwan Hidayanto ST & bro Ferdinand Ariesta ST from Mafioso95 Teknik Sipil Universitas Diponegoro Semarang, and best appreciated to my partner, broSaiful Kamal & team @ PT. Asa Konstruksi member of PropertyCamp Group

(08/12/10;24.40, AR)

FRIEND # 4 = KONSULTAN


oleh Adam Riza pada 08 Desember 2010 jam 10:37

“Jimat bos kita itu ada pada dasinya, coba aja elo copot, ilang deh ilmunya, gurauan tadi terjadi sekitar tahun 2002 disaat saya tengah menjalani karir sebagai seorang konsultan dan menemani atasan untuk melakukan sebuah pekerjaan sehari-hari yakni presentasi. Meyakinkan sekali memang ketika atasan tersebut melakukan presentasi kepada para pemilik sebuah gedung didaerah Tomang Jakarta Barat. Para pemilik gedung tersebut adalah para sesepuh didunia arsitek, Gedung MPR DPR mungkin salah satu hasil karya mereka, yang saya lihat dari gambar-gambar yang dipajang di gedung itu.Dari segi level pendidikan dapat dipastikan atasan saya berada dibawah level dari para pemilik gedung itu, yang memang merupakan guru besar disalah satu universitas terbaik di Indonesia, namun saya melihat tidak adanya keraguan pada diri atasan saya didalam melakukan presentasi yang menurut penilaian saya, atasan saya dapat meyakinkan para pemilik gedung dan akhirnya kami mendapatkan pekerjaan untuk memasarkan gedung tersebut.

“Apakah memang kesaktian seorang konsultan terletak pada dasinya???

Menurut Eyang Prop –mentor terbaik saya–, para konsultan umumnya mahir menjual diri mereka sendiri. Mereka diharuskan berlaku seperti itu karena para calon klien pemakai jasa harus diyakinkan bahwa mereka butuh bantuan jasa konsultan. Para konsultan berbusana rapi memproyeksikan kebanggaan akan diri mereka sehingga mereka memperoleh rasa percaya diri. Namun menurut Eyang Prop lagi, tidak hanya berpenampilan menarik yang menjadi syarat bagi seorang konsultan. Mereka harus selalu berusaha mengetahui dahulu permasalahan yang tengah dihadapi oleh sang klien, mereka pun cenderung harus menjadi pendengar yang baik sehingga dapat memberikan solusi apa yang optimal bagi sang klien.

Penilai/appraisal, arsitek perencana, kelayakan proyek, manajemen proyek, akuntan publik, beberapa jasa konsultan, merupakan kawan baik bagi kita  yang ingin terjun ke industri properti. Konsultan menurut Eyang Prop lagi, dapat digolongkan menjadi tiga kategori yang luas yakni perorangan/freelance, perusahaan-perusahaan kecil yang mengkhususkan pada bidang tertentu serta perusahaan besar dari berbagai disiplin ilmu.

Saya bersyukur sekali mendapat pengalaman yang berharga selama hampir 4,5 tahun menjadi seorang konsultan properti disalah satu perusahaan lokal terbaik di bidang properti, sampai saat ini pun saya masih merasa diri saya sebagai seorang konsultan, walaupun mungkin sudah melepaskan segala atribut pada penampilan saya sebagai seorang konsultan. Citra diri bagi seorang konsultan memang menjadi suatu hal yang sangat penting, kredibilitasnya akan meningkat bila ia bekerja bagi salah satu perusahaan terkenal. Eyang Prop menambahkan konsultan yang terbaik adalah orang-orang yang spesialis menangani sebuah bidang tertentu dan memiliki jam terbang yang tinggi pada bidangnya sehingga secara intelektual diakui ulet, gigih, dan berkomitimen kuat untuk mendahulukan kepentingan kliennya.

Thanks for Mr. Panangian Simanungkalit, MSc. RIM, Mr. Benyamin Ginting, Mr. Eko Sulistio dan seluruh rekan-rekan di Panangian Consulting Group yang masih eksis maupun sudah melanglang buana didunia properti Indonesia, I learn more than I can imagine from u all…

Yasya and  team Property in Concept … tunggu umur elo 21 tahun yak, satu perusahaan lagi dalam PropertyCamp Group

(05/12/10;23.02, AR)

FRIEND # 3 = NOTARIS


oleh Adam Riza pada 06 Desember 2010 jam 9:58

Thanks to Allah, tahun 2007 lalu saya dapat mulai menyusun rel-rel yang panjang dalam kegiatan saya dalam industri  properti ketika saya dapat mengenal seorang kawan yang memiliki figur seorang guru, dan tidak pernah terlihat lelah dalam membimbing saya yang memang sedang terus memperdalam keahlian dalam dunia properti. Kawan yang selalu membuat nyaman dengan segala pengalama yang beliau miliki adalah seorang dengan profesi Notaris sekaligus PPAT di Kota Tangerang.  “Beliau menurut saya adalah yang terbaik dalam profesinya, beliau selalu berusaha  untuk membantu siapapun orang yang memiliki permasalahan dalam bidang pertanahan ”.

Notaris dengan PPAT (Pejabat Pembuat Akta Tanah) pada awalnya saya berpikir sama namun sering bingung karena disetiap papan nama sebuah kantor notaris pasti tertulis ppat juga, kok aneh , pikir saya semula. Namun menurut Eyang Prop –mentor terbaik saya–, notaris dengan ppat itu berbeda, Notaris disumpah oleh Pengadilan Negeri dan mempunyai lingkup kerja untuk seluruh Indonesia tercinta dan bertugas untuk menangani segala bentuk akta, sedangkan PPAT adalah pejabat umum yang disumpah oleh Kepala Badan Pertanahan Nasional untuk urusan pertanahan dengan lingkup kerjanya perwilayah/kodya. Jadi lingkup kerja seorang Notaris lebih luas daripada PPAT, ujar Eyang Prop memberikan kesimpulan.Notaris sekaligus PPAT ini juga merupakan kawan yang wajib kita miliki bila ingin terjun dibidang properti, kita harus selalu menjaga kepercayaan dari seorang Notaris dan PPAT, karena merekalah tempat yang wajib kita kunjungi apabila kita ingin membuat akta-akta otentik mengenai perbuatan hukum tertentu mengenai hak atas tanah, yang mencakup akta jual beli, tukar menukar, hibah, pemasukan kedalam perusahaan (inberg), pembagian hak bersama, pemberian Hak Guna Bangunan/Hak Pakai atas tanah Hak Milik, pemberian hak tanggungan dan pemberian kuasa membebankan Hak Tanggungan.

Semakin berkembangnya industri properti tentunya akan membuat jasa Notaris dan PPAT akan semakin vital, inipun terlihat pada Notaris dan PPAT kawan sekaligus guru saya tadi. Kantor tiga lantai beliau yang berada di Kota Tangerang sehari-hari selalu terlihat penuh sesak oleh staf-staf beliau yang selalu terlihat profesional walaupun tugas-tugas menumpuk, tamu-tamu dari berbagai kalangan seperti pengembang baru seperti saya, para pemilik tanah maupun pembeli yang akan bertransaksi, sampai pengembang-pengembang kelas kakap di Kota Tangerang sering berkumpul dikantor beliau.

“Orang yang selalu berusaha menjaga amanat seseorang dan didalam menjaganya dengan penuh ketulusan dengan niat murni membantu orang yang mengalami permasalahan, tentunya akan membawa keberkahan bagi dirinya dan orang-orang sekelilingnya” , Eyang Prop kembali memberikan petuah kepada saya. Petuah tersebut terasa cocok dengan figur Notaris dan PPAT kawan sekaligus guru saya itu. Wajar dengan segala bentuk upaya beliau menjadi problem solver bagi orang-orang yang membutuhkannya dalam bidang pertanahan, saat ini beliau sedang membangun sebuah Gedung Megah 6 lantai di Pusat Kota Tangerang milik beliau sendiri.

Thanks for everything Pak Haji Herry, semoga semuanya berjalan lancar, aamiien.

(05/12/10;17.41, AR)

FRIEND # 2 = CALO (lagi)


Bagi saya dalam tahap terus belajar memahami industri properti, tawaran-tawaran dari kawan-kawan saya yang notabene posisinya dapat dibilang sebagai calo, sudah dapat dikatakan makanan sehari-hari, saya bersyukur sekali camp yang saya rintis di daerah Kota Tangerang selalu mendapat kunjungan kawan-kawan saya, baik yang memang beraktivitas di Kota Tangerang maupun datang dari daerah lainnya. Saya selalu berusaha melayani kawan-kawan yang datang dengan sebaik-baiknya.

Thanks all of you guys.,

Eyang Prop –mentor terbaik saya– pernah berkata “Setiap Calo itu ada Levelnya“, perkataan itu baru bisa mulai saya pahami saat saya memperoleh proyek perumahan saya yang pertama, kala itu sekitar akhir tahun 2008, saya ditawarkan sebuah peluang tanah oleh kawan SMA saya didaerah selatan Jakarta, pemiliknya adalah ayahnya sendiri, saya langsung dipertemukan oleh sang ayah, setelah mengadakan beberapa kali penawaran akhirnya saya dapat menjalankan proyek tersebut, kejadian ini juga berulang untuk proyek saya yang kedua, saat itu yang memberikan penawaran kepada saya adalah seorang supir pribadi yang telah bekerja lebih dari 10 tahun pada seorang pemilik tanah masih di selatan Jakarta. Kedua proyek pertama saya tadi tahap negosiasinya begitu lancar dan tidak membutuhkan waktu yang lama.

Kejadian tersebut berulang untuk proyek-proyek saya selanjutnya, seluruh proyek yang telah dan sedang saya jalankan sampai saat ini belum pernah ditawarkan langsung oleh pemilik tanahnya, melainkan ditawarkan oleh seorang calo. Hal ini pun terjadi pada pertengahan November 2010 lalu, seorang kawan saya yang sampai saat ini sedang bekerja di salah satu pengembang di Kota Tangerang, memberikan sebuah peluang kepada saya, “Tanahnya sebagian sudah bersertifikat, sedang dipasarkan dari rencana 37 unit telah dipesan sebanyak 21 unit”, ujar kawan saya. “Gua langsung undang aja kekantor elo, pemilik tanahnya sahabat gua dipasar pedagang kain dia, kebetulan kawan saya tadi pernah berdagang disebuah pasar, pembayaran tanahnya juga gampang kok, akad kredit unit baru dibayar, jatah gua elo atur aja, jangan kebanyakan ntar gemuk lagi”.. gurauan kawan saya sambil terus meyakinkan saya bahwa peluang yang dia tawarkan menarik.

Menurut saya yang mulai memiliki pemahaman terhadap perkataan Eyang Prop tadi langsung mempunyai firasat bahwa proyek tersebut akan dapat saya jalankan, dan saya bersyukur sekali karena firasat tadi menjadi kenyataan. Firasat tersebut saya peroleh dengan melihat hubungan yang sangat baik antar pemilik tanah dengan calo tersebut, seperti hubungan langsung ikatan darah ataupun hubungan emosional yang telah dibina kuat antara calo dengan pemilik tanah, keterbukaan dari calo terhadap apa yang sedang dia tawarkan, serta memberikan kemudahan kepada calon pembelinya terhadap cara pembayarannya dan pada akhirnya saya sebagai calon pembeli memiliki kepercayaan terhadap calo tersebut.

Saya semakin menghargai profesi calo ini, mereka adalah salah satu kawan terbaik yang harus kita miliki bila kita ingin terjun ke industri properti Semakin dekat hubungan dengan pemilik tanah, semakin terbuka dan memberikan berbagai kemudahan sehingga timbul rasa percaya kita terhadap seorang calo, maka semakin tinggi level calo tersebut dan semakin dekat kita dengan sebuah transaksi.

(04/12/10;01.13, AR)